Demfarm di Desa Puntik Dalam ditarget panen 6 ton per hektare

Demfarm di Desa Puntik Dalam ditarget panen 6 ton per hektarePetani di Desa Puntik Dalam tengah menyiapkan lahan yang siap ditanami padi pada program Demfarm. (ANTARA/Firman)

WARTABARU.COM – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian menargetkan Demonstrasi Usaha Tani-Nelayan berkelompok (Demfarm) di Desa Puntik Dalam, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan yang ditanami padi unggul dapat panen gabah minimal 6 ton per hektare.

"Kami melakukan pengawalan program Demfarm di Desa Puntik Dalam seluas 100 hektare yang mulai tanam April ini. Untuk bantuan diberikan dalam bentuk bibit 35 Kg/ha, 50 Kg kapur, 100 Kg Ponska/ha dan itik 1.000 ekor bagi 40 petani," terang Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Hendri Sosiawan di Banjarbaru, Minggu.

Diungkapkan Hendri, bulan April ini merupakan musim tanam kedua dalam upaya panen dua kali dalam setahun yang terus digelorakan pihaknya pada tanaman lahan rawa.

Sehingga walaupun di tengah situasi wabah virus corona sekarang, namun sektor pertanian tidak boleh lengah. Petani tetap harus semangat untuk menyediakan pangan bagi rakyat Indonesia.

Jika tahun lalu dengan program optimalisasi lahan rawa, Balittra dapat membuktikan kepada petani dapat memanen padinya dengan hasil yang sangat bagus. Kini petani di Desa Puntik Dalam menerapkan tanam dua kali dengan hasil berlipat ganda.

"Kita gunakan benih padi varietas Inpara 2 dan Inpari 32 yang merupakan 4 varietas adaptif lahan rawa pasang surut. Sehingga optimis hasil panennya nanti juga maksimal," tutur Hendri.

Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Hendri Sosiawan. (ANTARA/Firman)

Para peneliti Balittra pun terus memberikan edukasi ke petani bagaimana mengelola lahan pasang surut dengan baik dan benar. Sehingga dapat menghasilkan berbagai komoditas pertanian dengan hasil memuaskan.

Salah satu yang dikenalkan yaitu penerapan pertanian cerdas (smart farming) di lahan rawa yang merujuk pada penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bidang pertanian yang diyakini menjadi jawaban dari kebutuhan pangan global.

Tujuan utama penerapan teknologi ini untuk melakukan optimasi berupa peningkatan hasil baik kualitas maupun kuantitas serta efisiensi penggunaan sumber daya yang ada di lahan rawa.

Hendri menjelaskan, "Smart Farming Lahan Rawa" merupakan model pengelolaan lahan rawa berbasis teknologi modern yang adaptif dengan prinsip pertanian digital melalui penerapan peralatan presisi, sensor, Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga meminimalkan dampak lingkungan.

"Modern, berkelanjutan (sustainability), ketertelusuran (traceability) merupakan indikator smart farming lahan rawa," timpalnya.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top