Bencana Puting Beliung Paling Sering Terjadi di RI pada 2019

Bencana Puting Beliung Paling Sering Terjadi di RI pada 2019Ilustrasi puting beliung. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO).

WARTABARU.COM – Puting beliung menjadi bencana paling sering terjadi di Indonesia sepanjang tahun ini. Badan Meteorologi, Krimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 554 kejadian puting beliung di Indonesia selama periode 2019.

Selain puting beliung, banjir dan tanah longsor juga paling banyak terjadi, dengan jumlah peristiwa masing-masing mencapai 343 kejadian dan 340 kejadian.

BMKG juga mencatat bencana lain yang terjadi di Tanah Air sepanjang tahun ini. Bencana yang terjadi yakni kebakaran hutan dan lahan 52 kejadian, gempa bumi 12 kejadian, gelombang pasang atau abrasi tiga kejadian, dan letusan gunung api tiga kejadian.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengungkapkan puting beliung menjadi bencana alam paling banyak terjadi di Indonesia. Namun pengamatan BNPB, jumlah puting beliung yang terjadi lebih banyak yaitu 1.282 kejadian.

BNPB merekam jumlah bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia mencapai 3.622 kejadian.

Berdasarkan wilayah, Jawa tengah menjadi daerah yang paling banyak mengalami bencana alam dengan total 859 kejadian. Kemudian Jawa Barat 672 kejadian, Jawa Timur 582 kejadian, Aceh 177 kejadian, dan Sulawesi Selatan 162 kejadian.

Data BNPB juga menyebut 475 orang meninggal dunia akibat bencana alam pada 2019, 108 orang hilang, 3.408 orang luka-luka, 6 juta orang mengungsi, dan 72.390 unit rumah rusak.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan bencana itu selalu terjadi berulang, bahkan bisa terjadi di satu tempat yang sama. Akan tetapi, kata dia, hal paling penting adalah masyarakat siap dan siaga terhadap bencana.

Doni mengklaim BNPB punya program untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui Keluarga Tangguh Bencana (Katana). Program itu akan dikuatkan hingga desa-desa.

“Program Katana yang diluncurkan di Aceh. Saya saat tsunami Aceh berada di Lhokseumawe dan hari kedua sudah berada di Banda Aceh lalu di Meulaboh, dari sana saya berkeyakinan kalau orang Aceh saat itu punya pengetahuan seperti orang Simuelue, maka tidak akan banyak korban,” kata Doni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top