Tak Ada Mitra Ojol Maxim Bergabung dengan Asosiasi Garda

Tak Ada Mitra Ojol Maxim Bergabung dengan Asosiasi GardaBerdasarkan situs Maxim Indonesia, layanan ini mulai beroperasi sejak Juli 2018 di Jakarta. (Foto: (dok. Maxim)

WARTABARU.COM – Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono mengatakan tidak ada mitra ojek online (ojol) Maxim bergabung dengan asosiasi Garda.

Menurut Igun, ojol Maxim di Jakarta sempat terlihat pada tahun lalu, namun sampai saat ini tidak terlihat beroperasi di ibu kota.

“Di Jakarta sempat ada setahun lalu, namun tidak ada kabar lagi. Dari Garda juga tidak ada driver Maxim,” kata Igun melalui pesan singkat, Senin (23/12).

Berdasarkan situs Maxim Indonesia, layanan ini mulai beroperasi sejak Juli 2018 di Jakarta. Fasilitas yang ditawarkan Maxim juga menerima pesanan layanan perjalanan antar kota sejak November 2018.

Pada Maret 2019, Maxim memperluas layanannya ke Yogyakarta dan Pekanbaru. Layanan Maxim di Solo dimulai pada April 2019, menyusul Balikpapan dan Bandar Lampung pada Juni.

Pada Agustus, Maxim memulai layanan antar-jemput penumpang di Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, dan Jambi. Ekspansi terus berlanjut pada Oktober, dengan melebarkan sayap di Singkawang, Samarinda, Bengkulu, Padang, Banda Aceh, Palembang.

Pada situs resmi Maxim, disebutkan biaya layanan motor Rp6 ribu dan mobil mulai dari Rp12 ribu. Namun, di lapangan Maxim menetapkan per empat kilometer awal sebesar Rp3 ribu. Sedangkan tarif minimal Kemenhub Rp7 ribu plus biaya per km yang berbeda pada zona I, II, dan III.

Alhasil sejumlah mitra driver Gojek dan Grab menggeruduk perusahaan transportasi online Maxim di Solo. Mereka menuntut Maxim untuk menerapkan tarif sesuai regulasi pemerintah.

Menanggapi penggerudukan itu, Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono wajar dilakukan karena tarif ‘murah’ Maxim dapat merusak iklim bisnis yang ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi.

“Apabila publik lebih mencari tarif yang lebih murah, maka akan merusak iklim bisnis yang sudah kondusif sehat dan ekosistem ojol di wilayah,” ujar Igun.

Kabar terbaru, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya telah menegur transportasi online asal Rusia, Maxim untuk menetapkan biaya sesuai dengan aturan yang berlaku. Pihak Kemenhub dengan Maxim telah melakukan pertemuan pada Jumat (20/12).

CNNIndonesia.com telah menghubungi pihak Maxim terkait hal tersebut, namun hingga kini mereka belum memberi jawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top