Pakar Keamanan AS: Jaringan 4G Rentan Kena Serangan Siber

Pakar Keamanan AS: Jaringan 4G Rentan Kena Serangan SiberIlustrasi serangan siber. (Istockphoto/ Xijian)

WARTABARU.COM – Perusahaan solusi keamanan siber asal Amerika Serikat (AS), Palo Alto Networks menyebut celah keamanan konektivitas 4G masih terbilang rentan disusupi serangan siber pada 2020 seperti serangan malware, IP-spoofing, DDoS dan lainnya.

Menurut Field Chief Security Officer APAC Kevin O’Leary menjaga celah keamanan 4G dinilai menjadi tantangan bagi para operator telekomunikasi. Sebab, belum beragamnya standar keamanan untuk perangkat-perangkat berbasis long term evolution (LTE).

Masalah keamanan 4G pun dinilai sebagai gambaran persoalan keamanan konektivitas 5G nantinya jika telah diterapkan secara masif.

“Jika tantangan ini tidak segera diantisipasi, selain mobile ISP akan menjadi titik sasaran serangan siber di kemudian hari, kemungkinan mereka juga akan menjadi tempat terbukanya celah vulnerability seperti pada sistem IoT yang tidak aman,” ucap dia saat acara Palo Alto Networks 2020 di Sentral Senayan, Jakarta, Selasa (2/12).

Selain itu, Palo Alto Networks mengutip catatan dari GSMA yang memprediksikan bahwa 4G masih akan menjangkau 68 persen pengguna tahun 2025 di kawasan Asia-Pasifik.

Sebab, masih tingginya pengadopsian model LTE di area pedesaan karena panjang gelombang yang dipancarkan oleh jaringan 4G lebih panjang dibanding 5G.

“Melihat masih minimnya uji coba pagelaran 5G yang sukses saat ini, pembangunan infrastruktur 5G diprediksikan baru akan terjadi secara masif dalam kurun waktu 10 tahun. Bahkan sejumlah negara APAC baru saja mencicipi teknologi 4G,” terang O’Leary.

Sebelumnya, perusahaan solusi keamanan siber lain yakni Kasperksy Lab melaporkan serangan DDoS kuartal kedua 2019 meningkat sebesar 18 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Kaspersky, berdasarkan laporan DDos kuartal 2 2019, jumlah serangan memang turun hingga 44 persen jika dibandingkan kuartal 1 2019. Tipe serangan terbanyak berupa lapisan aplikasi uang sulit dikelola dan dilindungi. Serangan tipe ini meningkat hingga 32 persen dibandingkan dengan kuartal 2 tahun sebelumnya.

Jenis serangan ini menargetkan fungsi atau API aplikasi tertentu, tidak hanya untuk menggunakan jaringan, tetapi juga sumber daya server. Mereka juga lebih sulit untuk dideteksi dan dilindungi, karena memiliki permintaan yang terlegitimasi.

[Gambas:Video CNN]

Kaspersky pun merekomendasikan beberapa langkah untuk melindungi diri dari serangan DDoS. Pertama, pastikan sumber daya web dan TI dapat menangani lalu lintas tinggi dan padat. Kedua, gunakan solusi profesional untuk melindungi organisasi dari serangan.

Sebut Internet of Things Lemah

Palo Alto Networks juga menyebut perangkat yang didesain menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) rentan menjadi ladang serangangan siber pada 2020.

Menurut Director of Systems Engineering Palo Alto Networks Indonesia, Yudi Arijanto sejumlah perangkat IoT yang ada di pasaran tidak dibekali dukungan untuk pembaruan peranti lunak dan tambalan keamanan.

“Serangan Mirai Botnet beberapa waktu lalu berhasil menginfeksi berbagai jenis perangkat, mengobrak-abrik sejumlah layanan ternama global. Mereka menguak delapan celah kerentanan dan melengkapi daftar 18 vulnerability yang sudah berhasil mereka eksploitasi sebelumnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, malware mirai botnet membidik perangkat yang berada di lingkungan enterprise maupun di rumah-rumah seperti sistem persentasi nirkabel, set-top-box, SD-WAN hingga perangkat kontrol rumah cerdas.

Perusahaan asal Amerika ini memprediksi tahun 2020 bakal terjadi peningkatan jenis serangan melalui aplikasi dan skema log in yang lemah, mulai dari kamera pemantau (CCTV) di luar rumah yang terkoneksi.

Ancaman itu diprediksi bakal meluas dengan membanjirnya teknologi deep fake yang bisa digunakan untuk membobol pintu akses biometrik atau perangkat teknologi berbasis suara.

“Teknologi mimikri yang dahulu bermanfaat sebagai alat identifikasi berbasis biometrik untuk akses dan kontrol pada suatu sistem terkoneksi, kini penggunaannya justru malah berpotensi membawa akses yang luar biasa bagi sistem jaringan di lingkungan rumahan maupun perusahaan,” jelas Yudi.

“Pemasangan teknologi sensor, wearables, dan sistem terotomatisasi diprediksi akan makin meningkat pada sektor industri manufaktur sebagai upaya mereka melakukan perampingan di lini produksi, logistik, dan manajemen karyawan melalui pengumpulan dan analisis data,” sambungnya.

Selain itu menurut Palo Alto Networks, pemerintah disebut bakal makin gencar mengeluarkan pedoman dan regulasi keamanan untuk perangkat IoT.

“Diprediksikan pula bahwa pada 2020 edukasi mengenai keamanan siber bagi masyarakat akan mulai dilakukan, seiring dengan makin membanjirnya perangkat-perangkat terkoneksi dan adopsinya yang mulai tinggi,” pungkas Yudi.

Demikian berita ini dikutip dari CNNINDONESIA.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top