Tim Pengabdian Masyarakat FIB UI promosikan Desa Tumang pusat kerajinan logam

Tim Pengabdian Masyarakat FIB UI promosikan Desa Tumang pusat kerajinan logamHasil kerajinan logam Desa Tumang Cepogo dalam pameran di Paragon Mall Solo pada tanggal 9-10 November 2019. ANTARA/HO-Humas UI.

WARTABARU.COM – Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Pengmas FIB UI) mempromosikan (branding) Desa Tumang Cepogo sebagai pusat kerajinan logam di Indonesia.

"Diharapkan program ini mampu menjadikan Tumang menjadi salah satu sentra kerajinan logam di Indonesia serta menjadi destinasi wisata bagi para turis domestik maupun internasional," kata Tim Pengmas FIB UI, Prapto Yuwono di Kampus UI Depok, Selasa.

Tim Pengmas FIB UI ini melibatkan 3 dosen yaitu Prapto Yuwono, Dwi Kristianto, M.Kesos., Dr. Tony Doludea dan didukung 2 mahasiswa Dewi Dian Lestari, Trisnani Jati Winahyu menjalankan serangkaian program yang bertujuan untuk membangun citra Desa Tumang Cepogo sebagai pusat kerajinan logam di Indonesia.

Tidak kurang dari 60 persen produk kriya logam yang diproduksi masyarakat Tumang diekspor untuk pasar Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Australia, dan sejumlah negara Asia dan Eropa.

Sementara data Dirjen IKM Kemenperin tahun 2017 menunjukkan sebanyak 53 persen produk kerajinan tembaga dan kuningan dari Cepogo, Boyolali ini diekspor ke Perancis, Australia, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Selebihnya dijual ke pasar lokal seperti ke Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Semarang. Angka tersebut menunjukkan bahwa hasil produksi Tumang berhasil menembus pasar internasional dan memiliki daya saing unggul.

Sedangkan Anggota Tim Pengmas Dwi Kristianto menuturkan persaingan dalam era industri 4.0 menjadikan ancaman tersendiri terhadap daya saing dari produk kriya yang dihasilkan.

Di sisi lain ancaman terhadap regenerasi perajin sendiri juga tidak berjalan dengan baik. Meskipun masih banyak generasi muda yang mau menjadi perajin, tetapi jika didasarkan pada kebutuhan sumber daya manusianya, masih jauh dari mencukupi.

Identitas juga menjadi persoalan mendesak yang perlu mendapatkan perhatian, karena meskipun saat ini produk kriya tembaga di Tumang sudah menembus pasar global, persoalan branding masih menjadi pertanyaan yang harus segera dijawab karena berkaitan dengan identitas dan jatidiri serta nilai-nilai filosofi dan budaya masyarakat Tumang sendiri.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top