Pengusaha tahu Aceh pilih gunakan kedelai impor

Pengusaha tahu Aceh pilih gunakan kedelai imporPekerja menata tahu di Desa Plo Blang, Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu (16/11/2019) (ANTARA/Hayaturrahmah)

WARTABARU.COM – Pengusaha dan produsen tahu di Kabupaten Aceh Timur mengaku lebih memilih menggunakan kedelai impor dari pada kedelai hasil produksi lokal, alasannya kedelai impor lebih bersih.

"Kedelai impor mudah didapatkan dibandingkan kedelai lokal," kata Muhammad Nasir (40) pengusaha tahu di Desa Pulo Blang Kecamatan Darul Ihsan Kabupaten Aceh Timur, Sabtu.

Dia menjelaskan selama ini dirinya sulit mendapatkan bahan baku kedelai hasil produksi lokal, sehingga terpaksa harus menggunakan kedelai impor meskipun dengan harga lebih mahal dibadingkan kedelai lokal.

"Kedelai impor lebih bersih dan tidak berpasir walaupun harganya Rp350 ribu per karung yang isinya 50 kilogram,” katanya.

Dia menyebutkan rata-rata hasil bumi kedelai lokal dijual dalam kondisi yang belum benar-benar kering, bahkan ada yang kotor bercampur dengan pasir. Sehingga kedelai lokal sulit didapatkan yang bersih.

“Sekarang ini kendalanya adalah petani kedelai terlalu terburu-buru dalam menjual hasil buminya ke pasar, sebenarnya secara kualitas tidak jauh berbeda dengan kedelai impor,” katanya.

Nasir mengatakan bahwa setiap sekali produksi pihaknya membutuhkan empat karung kedelai, dengan kapasitas karung berukuran 50 kilogram per karung.

Usaha itu telah dijalankan belasan tahun yang lalu, dan menampung delapan orang tenaga kerja. Sehingga diharapkan bantuan Pemerintah Aceh Timur untuk mengembangkan usaha tahu tersebut.

"Ini supaya dapat menampung pekerja lebih banyak lagi sehingga pemuda di desa ini tidak melakukan pekerjaan yang dapat merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain," kata dia.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top