Prasasti Bantu Peneliti Ungkap Fakta Terbaru Kota Pompeii

Prasasti Bantu Peneliti Ungkap Fakta Terbaru Kota PompeiiJejak peninggalan kota Pompeii. (Foto: commons.wikimedia.org/PublicDomain/Brooklyn Museum/William Henry Goodyear (1846–1923))

WARTABARU.COM – Peneliti baru saja menerjemahkan sebuah prasasti yang berisi informasi mengenai kota Pompeii sebelum terkubur abu. Informasi ini berisi situasi dan kondisi kota Pompeii dalam beberapa dekade akibat terimbas letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.

Di tahun tersebut kota Pompeii dipenuhi dengan tradisi pesta dan pergelutan. Prasasti yang diterjemahkan ditemukan di dinding sebuah makam Pompeii yang ditemukan pada 2017.

Prasasti mendeskripsikan adanya pesta besar bagi seorang pemuda kaya untuk menyambut usia dewasa di Pompeii. Menurut prasasti, mereka mengadakan pesta besaran-besaran untuk menjamu 6.840 orang serta sebuah pertunjukan di mana 416 gladiator bertarung selama beberapa hari.

Prasasti itu juga menceritakan masa-masa sulit, termasuk kelaparan yang berlangsung empat tahun dan pertunjukan gladiator lain yang berakhir dengan kerusuhan publik.

Dirjen Archaeological Park of Pompeii, Massimo Osanna, menuliskan laporan terjemahan prasasti dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam edisi 2018 Jurnal Arkeologi Romawi, yang diterbitkan setahun sekali.

Osanna menguraikan prasasti itu dan mendiskusikan beberapa temuan yang diungkapkan oleh prasasti itu, termasuk informasi baru yang memungkinkan para peneliti menentukan berapa banyak penghuni Pompeii.

Pesta Sambut Usia DewasaTulisan itu mengatakan bahwa, ketika pria kaya itu cukup dewasa untuk mengenakan ‘toga virilis’ (toga yang dikenakan oleh warga negara pria dewasa), ia mengadakan perjamuan besar dan pertunjukan gladiator.

Perjamuan itu disajikan di 456 sofa tiga sisi sehingga pada setiap sofa ada 15 orang  yang duduk. Osanna mengatakan informasi ini dapat membantu para peneliti menentukan berapa banyak orang yang tinggal di Pompeii dalam beberapa dekade sebelum dihancurkan.

Prasasti itu mengklaim bahwa 6.840 orang menghadiri perjamuan itu. Osanna memprediksi perjamuan seperti itu  hanya untuk pria dewasa dengan hak-hak politik, dan orang-orang itu mungkin terdiri sekitar 27 persen hingga 30 persen dari total populasi Pompeii.

Oleh karena itu Osanna memperkirakan total populasi Pompeii sekitar 30 ribu orang. Terkait pertunjukan gladiator, Osanna mengatakan bahwa pertunjukan tersebut sangat mewah dan membakar uang.

Pertunjukan sebesar ini akan memakan waktu beberapa hari, paling tidak seminggu. Osanna mencatat bahwa jika setiap gladiator bertarung satu lawan satu, maka akan ada 213 perkelahian terpisah.

“Pertunjukan sangat besar dan indah sehingga dapat dibandingkan dengan koloni paling mulia yang didirikan oleh Roma, karena 416 gladiator berpartisipasi,” Osanna mengutip Live Science.

Kelaparan dan kerusuhan

Prasasti itu juga menyebutkan kelaparan yang menimpa kaum Pompeii yang mendorong lelaki kaya membantu sesama warga dengan menjual gandum di harga diskon dan mengorganisir distribusi roti gratis.

Mosaik terkenal dari Pompeii memperlihatkan tiga orang, termasuk seorang anak, di sebuah kios menunggu untuk mendapatkan roti. Osanna mengatakan mungkin saja mosaik itu menunjukkan peristiwa yang disebutkan dalam prasasti.

Tepat 20 tahun sebelum letusan Vesuvius, pada 59 M pecah kerusuhan selama pertunjukan gladiator. Sejarawan Romawi kuno Tacitus (56-120 M) juga menyebutkan kerusuhan ini dalam bukunya yang berjudul ‘Annals’,

Prasasti itu mengatakan bahwa, sebagai hukuman atas kerusuhan itu, Kaisar Nero memerintahkan agar otoritas Romawi mendeportasi seluruh gladiator dan keluarga mereka dari Pompeii sejauh dua ratus mil.

“Nero juga memerintahkan beberapa warga Pompei yang terlibat dalam kerusuhan meninggalkan kota, sesuai dengan prasasti,” ujar Osanna.

Prasasti itu mengklaim bahwa pria kaya itu berbicara dengan Nero dan meyakinkan kaisar untuk mengizinkan beberapa warga yang dideportasi kembali ke Pompeii. Hal ini mengindikasikan rasa hormat yang tinggi dari Nero untuk pria itu.

Sosok pria kaya itu

Osanna percaya bahwa nama dan posisi orang kaya itu diukir di bagian makam yang sekarang telah dihancurkan. Makam itu dijarah pada abad ke-19.

Identitas orang kaya itu diduga adalah Gnaeus Alleius Nigidius Maius, seorang pria yang disebutkan dalam prasasti lain dari Pompeii. Maius digambarkan sebagai orang yang sangat kaya dan berkuasa yang hidup di sekitar tahun 59 M.

Karya arkeologis sebelumnya menunjukkan bahwa sebuah makam milik ayah angkat Maius, “Marcus Alleius Minius, terletak di dekat makam yang berisi prasasti tersebut. Terjemahan prasasti tersebut merupakan permulaan, dan studi lebih lanjut dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top