Kementerian Kelautan dorong pengembangan udang jerbung

Kementerian Kelautan dorong pengembangan udang jerbungIlustrasi udang jerbung. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP

WARTABARU.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pengembangan budidaya udang jerbung dengan cara antara lain memberikan bantuan dan pendampingan kepada pembudidaya di berbagai daerah.

"Udang jerbung merupakan komoditas yang tepat untuk dikembangkan di Indonesia karena ketersediaan induk hampir tersedia di seluruh wilayah perairan Indonesia, sehingga memudahkan untuk dilakukan pengembangan," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut Slamet Soebjakto, selain merupakan jenis udang lokal asli Indonesia, secara teknis komoditas ini mempunyai potensi ekonomi yang lebih menguntungkan dengan biaya produksi usaha yang lebih efisien serta lebih tahan terhadap penyakit.

Ia memaparkan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara telah berhasil menginisiasi program pemuliaan buatan (seleksi breeding) untuk penyediaan stok benih udang jerbung bermutu bagi masyarakat pembudidaya di Indonesia.

"Program ini menghasilkan induk unggul jerbung dengan status Specific Pathogen Free (SPF), pertumbuhan cepat dan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat mengurangi ketergantungan induk hasil tangkapan di alam serta mengurangi risiko penyakit," katanya.

Selain itu, inisiasi tersebut juga berhasil mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia pada bulan Agustus 2019.

"Saat ini KKP sedang melakukan uji multilokasi untuk melihat 'performance' yang dihasilkan untuk selanjutnya dapat kita tingkatkan kualitas benih, penyiapan induk hingga ke sistem pembudidayaan yang paling tepat. Selain di Gresik, lokasi percontohan juga telah dilakukan juga di Pemalang, Brebes, Demak dengan pembinaan langsung dari BBPBAP Jepara bekerja sama dengan penyuluh dan dinas perikanan setempat," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, udang merupakan komoditas utama penopang kinerja ekspor produk perikanan Indonesia. Volume ekspor udang pada tahun 2018 mencapai 197,42 ribu ton atau 17,53 persen dari total ekspor produk perikanan indonesia.

Sementara nilai ekspor udang pada tahun yang sama yaitu sebesar 1,74 miliar dolar AS, yang merupakan 35,84 persen dari total nilai ekspor produk perikanan Indonesia atau memiliki nilai tertinggi diantara komoditas lainnya.

Slamet melanjutkan bahwa khusus Gresik, pihaknya telah memberikan bantuan berupa 723.000 benur udang kepada Pokdakan Windu Rejo di Sidayu serta 501.000 benur udang kepada Pokdakan Mina Mandiri di Ujung Pangkah.

"Tidak menutup kemungkinan bantuan lain seperti PITAP atau excavator akan segera disinergikan untuk membangun lokasi budidaya berbasis kawasan yang terfokus pada komoditas ini," katanya.

Slamet menilai hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 yang telah ditetapkan oleh pemerintah, di mana salah satu sasarannya adalah menyediakan sistem penyediaan air untuk komoditas bernilai tinggi.

Untuk selanjutnya, ujar dia, pembangunan berbasis kawasan akan terus dikedepankan sehingga secara otomatis akan terbentuk kawasan khusus udang vaname, kawasan khusus udang windu, kawasan khusus udang merguensis dan kawasan polikultur yang diharapkan tidak mencemari satu sama lain agar menuju perikanan budidaya yang berkelanjutan.

Data menunjukkan dari potensi sekitar 3 juta ha lahan tambak, baru termanfaatkan sebanyak 650 ribu ha, atau hanya sekitar 22 persen saja. Dengan potensi lahan yang begitu besar, komoditas udang masih dapat terus dikembangkan, utamanya untuk udang yang bersifat adaptif seperti jerbung.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top