Jember lestarikan budaya lokal melalui “Puger Etnik Karnaval”

Jember lestarikan budaya lokal melalui Bupati Jember, Jatim Faida bersama warga Puger dalam kegiatan Puger Etnik Karnaval yang digelar di Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Sabtu (14/9/2019). (FOTO ANTARA/OHO- Humas Pemkab Jember)

WARTABARU.COM – Rangkaian kegiatan Puger Etnik Karnaval yang digelar di Pantai Pancer Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu merupakan upaya masyarakat di pesisir selatan Jember untuk melestarikan budaya lokal.

"Kegiatan Puger Etnik Karnaval yang dihadiri Bupati Jember Faida merupakan ruang untuk mengangkat seni budaya, kearifan lokal, kuliner, dan ekonomi kreatif, sehingga dapat mendongkrak perekonomian warga di Kecamatan Puger," kata Ketua Panitia Puger Etnik Karnaval, Mulya Cahyono di Jember.

Ia mengatakan kegiatan karnaval etnik tersebut diharapkan dapat mengangkat berbagai potensi desa di Kecamatan Puger, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Puger.

"Kami bersyukur Puger memiliki daya tarik yang bisa mendatangkan wisatawan karena keindahan alamnya, namun melalui kegiatan Puger Etnik Karnaval juga dapat memromosikan pariwisata lainnya, kuliner dan produk unggulan desa," katanya.

Dalam kegiatan Puger Etnik Karnaval juga dimeriahkan oleh peragaan busana seni budaya, Festival Kuliner Erok-erok dan bazar UMKM, serta produk unggulan beberapa desa di Kecamatan Puger.

Festival Kuliner Erok-erok menjadi andalan dalam kegiatan Puger Etnik Karnaval karena melibatkan banyak orang dari masyarakat Puger dan peserta mendaftar secara kelompok minimal 5 orang dengan memakai pakaian atasan berwarna merah, serta menyiapkan bahan untuk membuat Erok-erok yang akan dinikmati bersama para pengunjung.

Dalam rangkaian etnik karnaval tersebut, katanya, masyarakat Puger juga menggelar Gerebeg Suro yang menjadi tradisi setiap tahun yang dilaksanakan oleh warga pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Sementara itu Bupati Jember Faida mengajak masyarakat untuk membangun ide untuk tradisi g

Gerebeg Suro dengan puncak peringatan berupa pawai budaya oleh masyarakat dan larung sesaji ke laut yang menjadi lahan mata pencaharian masyarakat.

"Tradisi itu benar-benar bagian dari budaya, sehingga tradisi Gerebeg Suro harus dijaga, agar sejarah tidak terpisahkan dari masyarakat modern pada masanya," ujarnya.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top