Kurs Euro jatuh di bawah 1,10 dolar AS pada akhir perdagangan Jumat

Kurs Euro jatuh di bawah 1,10 dolar AS pada akhir perdagangan JumatIlustrasi. Dolar Amerika dan euro. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic

WARTABARU.COM – Kurs euro jatuh di bawah 1,10 dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), ke level terlemah sejak Mei 2017, karena pergerakan turun dalam beberapa hari untuk mata uang tunggal yang meningkat dalam perdagangan sore.

Pedagang memiliki beragam penjelasan untuk penurunan tersebut, termasuk penyeimbangan kembali portofolio akhir bulan yang meningkatkan bias yang ada. Tren jangka panjang, yang telah melihat euro jatuh 0,90 persen pada Agustus, telah didorong oleh perlambatan ekonomi di Eropa di antara faktor-faktor lainnya.

“Kami mengalami penurunan ganjil cepat 50 poin, yang tampaknya terkait akhir bulan. Jelas euro telah cukup lemah untuk beberapa waktu. Kami menyentuh di bawah 1,10 dolar AS pada awal Agustus dan kami telah berjuang keras untuk bangkit kembali dari titik itu. Kelemahan yang mendasari yang kita telah lihat bertahan dalam sebulan terakhir tampak sangat utuh," kata Shaun Osborne, kepala strategi valuta asing di Scotia Capital.

Langkah ini juga dimulai tak lama setelah Presiden Donald Trump mencuit bahwa euro turun "seperti orang gila" dan menyesalkan keadaan dolar AS, menghubungkan kekuatannya dengan kebijakan Federal Reserve. Dolar yang lebih lemah akan mengirim euro lebih tinggi, menunjukkan cuitan itu tidak memiliki efek langsung pada pasangan (euro/dolar). Euro terakhir diperdagangkan pada 1,0976 terhadap dolar AS, turun 0,71 persen pada hari itu.

Data ekonomi zona euro yang buruk pada Kamis (29/8/2019) memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan memangkas suku bunga acuan dan mengumumkan putaran baru pelonggaran kuantitatif pada pertemuan September. Christine Lagarde, presiden ECB berikutnya, mengatakan bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga jika perlu.

"Tampaknya masih ada perdebatan di ECB jika akan ada ledakan pelonggaran signifikan atau langkah yang lebih terukur bulan depan," kata Osborne.

Pada pertemuan September, "kami pikir penurunan suku bunga setidaknya, meskipun mungkin bukan waktu untuk QE (pelonggaran kuantitatif) diperbarui."

Ketika dolar AS naik, yuan China di luar negeri menuju penurunan bulanan terbesarnya dalam 25 tahun ketika kedua negara bersiap untuk penerapan tarif pembalasan baru pada Minggu (1/9/2019).

Indeks dolar AS 0,38 persen lebih tinggi pada 98,884, menutup bulan sedikit bergerak setelah dicambuk oleh berita utama perdagangan. Terhadap dolar AS, yuan di luar negeri 0,28 persen lebih lemah pada 7,163, ditetapkan untuk penurunan 3,69 persen pada Agustus, itu penurunan bulanan terbesar sejak 1994.

Tarif tambahan lima persen untuk barang-barang senilai 125 miliar dolar AS dari China dijadwalkan akan dimulai pada hari Minggu besok. Investor khawatir sengketa perdagangan yang semakin intensif dapat menyebabkan ekonomi AS memasuki resesi.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top