Aktivis Sebut Pembangunan Ibu Kota Baru Ancam Lahan Gambut

Aktivis Sebut Pembangunan Ibu Kota Baru Ancam Lahan GambutIlustrasi. Pemadaman kebakaran ladang gambut di Jambi pada 6 Agustus 2019. (Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

WARTABARU.COM – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyebut pembangunan infrastruktur dapat mengancam ekosistem lahan gambut di Kalimantan Timur. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan energi perlu dilakukan pembongkaran batu bara.

Meskipun ladang gambut jarang ditemui di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, namun ladang gambut ini masih menjadi bagian dari ekosistem sungai Mahakam di mana sebagian cabang sungai berada di Teluk Balikpapan.

“Pasti terancam [ladang gambut], pasti pemerintah akan membuka akses ke Mahakam Hulu untuk membongkar batu bara demi pemenuhan kebutuhan energi yang mana ini bagian dari pembangunan infrastruktur ibu kota baru,” kata Koordinator Jatam Merah Johansyah saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Kamis (29/8).

Selain mengancam ekosisem ladang gambut, lokasi dua ibu kota baru ini berada di daerah pesisir yakni di ujung Teluk Balikpapan yang menjadi rumah bagi sejumlah spesies hewan dan tanaman juga terancam habitatnya.

Merah mencontohkan di Teluk Balikpapan sendiri didiami oleh spesies beruang madu, orangutan, ikan pesut yang dikenal sebagai ‘maskot’ Kalimantan Timur, dan hutan mangrove.

“Gimana kalau di teluk Balikpapan? Itu ada mangrove, orangutan, ikan pesut, lalu beruang madu. Ada juga Sungai Manggar yang menjadi sumber airnya orang Balikpapan yang merupakan penyangga dari Bukit Soeharto,” tuturnya.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto merupakan sebuah taman hutan raya yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sebagian kawasan terpotong oleh jalan poros Samarinda-Balikpapan.

Sebelumnya, presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) telah memastikan ibu kota baru berada di Kalimantan Timur menggantikan Jakarta. Jokowi beralasan Kaltim dipilih karena pertimbangan strategis dan kebencanaan.

Namun keputusan pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur menimbulkan pro dan kontra di kalangan aktivis lingkungan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut juga dapat mengancam spesies yang hidup di situs batuan gamping atau karst Sangkulirang-Mangkalihat Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur.

Peneliti Biologi LIPI Cahyo Ramadi mengungkap Kalimantan Timur dikenal dengan kekayaan alam karst yang merupakan bahan baku utama pembuatan semen.

“Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan rumah kebudayaan masa lalu dan juga rumah berbagai spesies yang khas, unik dan endemik. Beberapa spesies juga sudah mengalami tekanan akibat perubahan lahan antara lain tambang batu bara dan perkebunan sawit,” kata Cahyo, Rabu (28/8).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top