BPPT: Hujan Buatan Tetap Butuh Dukungan Alam

BPPT: Hujan Buatan Tetap Butuh Dukungan AlamIlustrasi (LOIC VENANCE / AFP)

WARTABARU.COM – BPPT menyebut proses modifikasi cuaca dengan hujan buatan tetap membutuhkan bantuan alam. Sebab, hujan buatan hanya mempercepat proses pembentukan awan hujan. Modifikasi tidak bisa dilakukan tanpa adanya awan tersebut.

Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto menguraikan bahwa hujan buatan tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai pekerjaan membuat hujan. Karena teknologi ini  berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan.

“Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini adalah, dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” papar pria yang akrab dipanggil Seto tersebut, seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima, Selasa (23/7).

Menurut Kepala BPPT Hammam Riza, hujan buatan akan lebih efektif jika kondisi atmosfer ideal, ketika ada awan potensial. Sementara pada masa menjelang puncak musim kemarau, potensi keberadaan awan-awan itu kecil.

TMC yang dilakukan oleh BPPT melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC), adalah sebuah pemanfaatan teknologi yang berupaya  inisiasi ke dalam awan. Agar proses yang terjadi di awan lebih cepat, dibandingkan dengan proses secara alami. 

Sehingga, opsi menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan sebagai solusi mengatasi kekeringan, membutuhkan prediksi iklim dan cuaca yang akurat. 

Seto menambahkan hujan buatan akan makin potensial jika didukung oleh awan yang banyak. Sebab, makin banyak awan akan menghasilkan hujan yang lebih banyak juga. Awan potensial yang dimaksud adalah intraseasonal monsoon.

“Pada Rakor tadi menurut data BMKG, kondisi cuaca saat ini tidak memungkinkan adanya potensi awan utk membuat menjadi hujan di wilayah Jawa, Bali hingga NTT secara keseluruhan. Namun secara lokal, ada kemungkinan potensi awan yg disebut intraseasonal monsoon, yang berpotensi menjadi hujan,” paparnya.

Untuk mempercepat reaksi BPPT jika awan tersebut terbentuk Hammam menyebut pihaknya akan mendirikan Posko Utama pelaksanaan Operasi TMC di Lanud Halim Perdanakusumah, dan posko lainnya di Kupang, NTT. Posko di Halim akan siaga pesawat CN295 dan posko di Kupang NTT dengan pesawat Casa 212-200.

“Hal ini untuk mengantisipasi adanya potensi awan lokal tersebut, yang akan langsung disemai dengan operasi hujan buatan […]  Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Oktober,” jelas Kepala BPPT Hammam Riza usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) terkait antisipasi bencana kekeringan, di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (22/07/2019).

BPPT siap melakukan modifikasi cuaca sebagai antisipasi kawasan yang terancam kekeringan. Hal ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap areal persawahan, yang banyak tersebar di Jawa, Bali, NTT, dan NTB. 

“Jika kekeringan melanda di banyak wilayah pertanian khususnya tanaman padi, maka dikhawatirkan akan terjadi gagal panen,” papar Hammam.

Kemudian terkait dengan kesiapan BPPT dalam melakukan operasi TMC, Seto menyebut pihaknya perlu melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu seperti koordinasi dan memodifikasi pesawat untuk dapat digunakan dalam melaksanakan Operasi TMC.

Demikian berita ini dikutip dari CNNINDONESIA.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top